Tradisi Budaya Kuno Yang Tak Lazim Dan Aneh

Setiap daerah pasti memiliki tradisi dan budaya yang berbeda-beda. Kali ini kita akan membahas tentang tradisi dan budaya yang mungkin tak lazim dan aneh. Tradisi dan budaya yang akan dibahas kali ini adalah tradisi-tradisi seks budaya kuno yg telah lama dipraktikkan di beberapa tempat di dunia. Berikut tradisi-tradisi seksual yg paling aneh dan tak lazim di dunia.

1. Sambians, Suku Yang Minum Air Mani

Suku Sambia yang bermukim di pedalaman Papua Nugini memiliki adat istiadat super unik, terutama dalam hal kedewasaan. Untuk menjadi dewasa, seorang laki-laki suku Sambia harus melewati beberapa macam ritual kedewasaan, salah satunya meminum air sperma lelaki lain. Wah! Ritual aneh ini dimulai saat mereka menginjak usia 6 atau 7 tahun dan akan berlangsung hingga mereka memiliki anak. Ketika waktu ritual tiba, maka para anak lelaki tersebut akan tinggal terpisah dari ibu mereka. Anak-anak itu akan tinggal di sebuah gubuk bersama penghuni lainnya yang juga laki-laki.

Sebelum ritual minum sperma, anak lelaki suku Sambia harus melewati dua ritual terlebih dahulu. Ritual pertama dimulai dengan mengeluarkan darah dari hidung dengan cara menusukan kayu runcing atau batang rumput kering ke dalam hidung hingga berdarah. Ketika darah berhasil mengalir dari hidung anak suku Sambia, maka upacara syukuran pun dilaksanakan, mereka bahkan saling memeluk dan berjabat erat hingga menangis bersama. Setelah ritual tusuk hidung tersebut, anak lelaki suku Sambia yang sedang dalam proses kedewasaan akan dicambuk hingga dipukuli.

Ritual keras ini konon bertujuan untuk menguatkan fisik dan jiwa mereka untuk menjadi seorang prajurit. Setelah melewati dua ritual keras itu, ritual meminum air sperma pun dimulai. Suku Sambia yakin kalau laki-laki dan perempuan dilahirkan dengan tingu, yaitu bagian tubuh yang berfungsi sebagai prokreasi. Saat lahir, tingu anak laki-laki dipercaya layu dan kering. Dan satu-satunya cara untuk mengisinya kembali adalah dengan meminum air mani atau sperma orang lain.

Air mani yang akan mereka minum bukanlah sembarang sperma, namun harus sperma milik ketua adat dan sperma laki-laki yang telah dewasa berumur 13 hingga 21 tahun. Sebaliknya, saat mereka menginjak umur 13, maka mereka akan menjadi ‘sumber sperma’ bagi anak lelaki lainnya. Lelaki suku Sambia akan menikah pada umur 20 tahun. Sebelum menikah, ketua adat mereka akan mengajarkan cara melindungi diri dari ketidakmurnian perempuan. Setelah berhubungan badan dengan istri, mereka akan bermandi lumpur untuk menghindari kotoran yang ada di tubuh dan kelamin istrinya.

2. Mardudjara, Suku Pemotong Alat Kelamin

Tradisi terpenting dari suku Mardudjara Aborigin di Australia ini bisa dibilang cukup mengerikan. Mereka melakukan sunat barbar kepada organ intim para pria di sana. Di mana organ intim pria itu dipotong memanjang ke bawah sampai bagian scrotum & darah menetes ke api, itu dianggap dapat memurnikannya, sehingga bisa mengubah saluran buang air kecil bagi para pria. Hal ini tidak sampai disitu saja, kepala suku akan menyuruh si pria membuka mulutnya dan memasukkan kulit dari organ intim si pria tersebut. Si pria harus menelannya tanpa harus menggigitnya.

3. Trobrainders, Suku Behubungan Seks di Umur Muda

Suku primitif di pedalaman Papua Nugini ini tampaknya bisa menjadi studi kasus dalam konseksuensi revolusi seksual. Bagaimana tidak, anak-anak di sana sudah bisa berhubungan sex dengan wanita pada usia 6-8 tahun untuk wanita dan 10-12 tahun untuk pria tanpa stigma sosial. Tradisi ini sudah menjadi hal yang wajib dilakukan disana dan sebagai pemicu berkembangnya penyakit AIDS secara mengerikan di pedalaman Papua.

4. Saut d’Eau, Ritual Sex & Cinta

Jika Anda bepergian ke Haiti & mengunjungi air terjun Saut d’Eau di bulan Juli, maka kamu akan melihat ritual yag cukup aneh. Mereka akan melakukan persembahan untuk dewi cinta dengan cara yang bisa dibilang salah. Bagaimana tidak, suku ini akan melakukan persembahan dengan cara mandi lumpur yang telah tecampur dengan darah sapi dan sampai akhirnya mereka akan bercinta dibawah air terjun. Ritual ini sangat diharuskan bagi yang sudah punya pasangan karena kalau tidak dilakukan mreka akan sial.

5. Nepalese, Suku Berbagi Istri

Ada sebuah keunikan yang terjadi di kawasan Himalaya( suku Upper Dolpan). Dengan minimnya sumber daya alam, masyarakat Upper Dolpa tidak memiliki banyak harta. Akan tetapi mereka tidak pernah kekurang makanan, mereka dapat mengatasi hal ini dengan cara menyiapkan pernikahan terhadap anak-anaknya. Suku ini akan menikahkan anak tertuanya dengan wanita yang telah dipilih dan mereka akan memberikan kesempatan kepada anak-anaknya yang lain untuk menikahi istri anak tertua tersebut. Hal ini merupakan solusi untuk mengurangi terjadinya kekurangan bahan makanan. Dengan melakukan hal ini bisa membuat anak mereka tinggal bersama tanpa harus berbagi tanah keluarga.

6. Woodaabee, Suku Pencuri Istri

Nigeria punya suku dengan tradisi unik. Salah satunya suku Wodaabe Fula yang memiliki tradisi mencuri istri. Festival Gerewol adalah festival yang diadakan Suku Wodaabe Fula di Nigeria. Di festival ini, mereka berkompetisi untuk mencuri istri orang lain. Biasanya Festival Gerewol dilakukan di area In Gall, barat laut Nigeria. Suku Wodaabe dibagi menjadi 15 kelompok garis keturunan.

Keturunan inilah yang menentukan kepada siapa mereka menikah. Sejak kecil, Suku Wodaabe memang telah dinikahkan berdasarkan tradisi. Pernikahan pertama mereka telah ditetapkan sejak kecil dan harus diantara sepupu yang seumur. Barulah setelah dewasa mereka mencari wanita lain untuk dijadikan pendamping hidup sungguhan. Wanita-wanita ini tentulah wanita yang telah dijodohkan dengan pria lain. Karena itulah, festival ini disebut mencuri istri. Pada festival, seluruh pria akan menari dan menyanyi. Acara tari menari ini dinamakan Yaake. Tujuannya tentu untuk menarik perhatian perempuan muda sehingga bisa mengajaknya menikah.

Sayangnya, pencurian istri ini sering menjadi ajang perselisihan antara istri muda dan istri tua. Wanita yang dicuri pun harus hidup bersama suami barunya dan meninggalkan keluarga lamanya. Jika sang wanita ternyata telah memiliki anak, terpaksa ia harus meninggalkan sang anak dengan suami lamanya. Hal inilah yang membuat hubungan antara ibu dan anak di Suku Wodaabe tidak terlalu kuat.

7. Mesir Kuno, Adegan Seksual Publik

Menurut Sex and Society, ada yang menyebutkan bahwa pasang surut aliran sungai Nil di Mesir disebabkan oleh ejakulasi Atum (Dewa Penciptaan). Konsep ini memicu banyak raja Mesir kuno untuk melakukan ritual masturbasi ke sungai Nil untuk menjamin kelimpahan air. Karena terinspirasi dengan tindakan itu, maka pria-pria Mesir kuno melakukan festival Dewa Min untuk menirunya.

8. Yunani, Tradisi Homoseksual

Kasus homo seksual yang akhir-akhir ini menjadi salah satu problematika besar dan nyata di kehidupan masyarakat modern, sepertinya sudah dikenal lebih dulu oleh bangsa Yunani kuno. Di mana mereka tidak membedakan hasrat seksual oleh jenis kelamin, namun lebih menekankan pada peran yang dilakukan oleh orang per-orang di sana. Menurut sebuah tulisan dari Oddee.com, alasan para kaum homo seksual bisa bebas berkeliaran pada jaman itu adalah karena masyarakat Yunani kuno tidak melihat orientasi seksual sebagai indentitas sosial seperti yang kita lakukan sekarang.

Bahkan masyarakat Yunani Kuno tidak membedakan pasangan berdasarkan jenis kelamin pasangan, namun melihat peran mereka pada saat bercinta. Masyarakat Yunani kuno membedakan peran pasangan menjadi si aktif dan si pasif. Bisa ditebak, pasangan yang mempunyai peran aktif biasanya diasosiasikan dengan measkulinitas sedangkan mereka yang berlaku pasif mempunyai peran yang feminis.

9. Yunani Kuno, Homoseksual

Perjantanan atau paederasty adalah hubungan homoseksual (biasanya erotis) antara laki-laki dewasa dan dibawah umur atau remaja laki-laki. Kata Perjantanan berasal dari bahasa Yunani παιδεραστία (paiderastia) “cinta anak”, senyawa yang berasal dari paidophilia (pais) “Anak-anak laki-laki” dan ἐραστής (erastēs) “kekasih”. Dalam bahasa Perancis, “pédérastie” telah digunakan sebagai sinonim untuk homoseksualitas antara laki-laki dewasa. Secara historis, Perjantanan telah ada sebagai praktek-praktek dalam budaya yang berbeda.

Status Perjantanan telah berubah selama sejarah, kadang-kadang dianggap ideal dan lain kali kejahatan. Yunani kuno percaya bahwa pria masih dianggap anak laki-laki sampai jenggotnya tumbuh dan mereka yang lebih tua berguna untuk mendidik, melindungi dan mencintai yang lebih muda dengan jaminan pahala. Entah siapa yg menjaminkan pahala untuk mereka.

10. Onda Matsuri, Jepang

Kuil Asuka merupakan salah satu kuil di Jepang yang sudah 87 kali memiliki pemimpin. Nama Kuil ini berkaitan dengan legenda kesuburan yang dipercaya membawa keberuntungan di dalam perjodohan, pernikahan dan kemudahan memiliki keturunan. Selain itu, ketika Anda memasuki kuil, Anda akan menemukan berbagai batu dengan bentuk yang aneh, terutama batu yang berbentuk penis dan vagina. Batu-batu ini dianggap suci dan sering disandingkan berpasang-pasangan.

Selain itu, pada ritual ini kita akan menemukan beberapa orang yang menggunakan topeng dengan bentuk aneh. Mereka semua terdiri dari laki-laki, namun salah satunya ada yang berperan sebagai perempuan. Sebenarnya Onda Matsuri sendiri adalah ritual untuk menanam padi agar tumbuh dengan subur. Ritual ini sudah dilakukan 1000 tahun lamanya. Diawali dengan beberapa orang berpakaian putih yang akan membawa beras untuk persembahan pada dewa-dewa.

Kita akan menemukan adegan di mana seorang pria seperti sedang membuang air kecil. Kemudian adegan seperti sepasang suami istri yang akan melakukan hubungan intim. Ritual ini dilakukan dengan menggunakan pakaian sehingga tidak perlu khawatir Anda akan melihat sesuatu yang vulgar. Para penonton akan sesekali tertawa dengan tontonan ini karena ritual tersebut mirip pantomim dan pemerannya menggambarkan adegan yang menggelikan sehingga menggelitik pengunjung yang menontonnya.

Itulah beberapa tradisi dan budaya dari beberapa suku yang ada di dunia. Semoga tautan ini bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan kita.