Tak Lagi Bergantung Pada Cina, Kini Indonesia Sudah Produksi Rubber Airbag Sendiri

Jika yang selama ini kita ketahui bahwa Indonesia sangat bergantung pada Cina untuk melakukan impor, kini sepertinya ketergantungan itu sudah akan punah, itu semua terbukti dari berhasilnya Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) membuat rubber airbag sendiri.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan PT. Samudera Luas Paramacitra dan berhasil melakukan perekayasaan teknologi material melalui pengembangan teknologi pembuatan rubber airbag dengan memanfaatkan komoditi karet alam lokal. Inovasi rubber airbag inipun diharapkan dapat menjadi awal bagi kebangkitan industri karet dalam negeri untuk mendukung bidang maritim dengan pemanfaatan bahan baku lokal karena selama ini masih sepenuhnya impor. Nah, untuk lebih jelasnya lagi, simak penjelasan lebih lanjutnya di bawah ini.

Proses Pembuatan Rubber Airbag

Rubber airbag, seperti namanya, berbentuk menyerupai kantung berbahan karet berisi udara. Namun beda dari kedengarannya, kantung ini berfungsi sebagai landasan yang membantu peluncuran kapal.

“Selama ini kita impor dari China,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto. “Maka kita coba kerjasama dengan industri agar bisa membuat sendiri,” imbuhnya lagi. Direktur Pusat Teknologi Material BPPT, Aris Riswoko, mengatakan, upaya lembaganya untuk membuat rubber airbag dimulai sejak tahun 2015.

“Meskipun terlihat sederhana, pembuatan rubber airbag rumit sebab kita harus membuat agar karet dan lapisannya bisa menahan beban kapal hingga 1600 ton,” katanya. Setelah uji coba mengolah karet dan mencampurnya dengan bahan lain, BPPT yang bekerjasama dengan PT Samudra Luas Paramacitra akhirnya bisa membuatnya.

“Dari uji bearing capacity, rubber airbag telah melampaui ISO 14409:2011 Ships and Marine Technology, Ships and Marine Airbag. Hasil uji ini menunjukkan kemampuan dan kekuatan rubber airbag dalam menahan bobot kapal,” kata Hammam Riza, Deputi Bidang Informasi, Energi dan Material BPPT.

Unggul mengatakan, rubber airbag ini sekaligus bisa membantu pemanfaatan karet alam yang selama ini diekspor sebagai bahan mentah dengan harga yang tidak stabil. Dengan pengolahan menjadi rubber airbag, karet jadi punya nilai tambah. Rubber airbag ke depan direncanakan akan diekspor, setidaknya untuk pasar terdekat.

“Supply chain juga jalan, petani karet bisa jual karetnya ke industri,” ungkap Unggul. Presiden Direktur PT Samudra Luas Paramacitra mengungkapkan, rubber airbag yang dihasilkannya memiliki beberapa kelebihan. Keunggulan utama adalah produksi dalam negeri dan harga yang lebih murah 30 persen dari impor. Keunggulan lainnya, dengan memakai rubber airbag lokal, waktu pengadaan lebih singkat dan lebih fleksibel sesuai kebutuhan galangan.

Dengan menggunakan rubber airbag lokal, Indonesia akan mengikis ketergantungan impor senilai 8,7 juta dollar AS per tahun. Pasalnya, potensi pemasaran rubber airbag di Indonesia mencapai 10.000 unit per tahun dan Martin berkata bahwa pihaknya bisa menghasilkan setidaknya puluhan per bulan. Rubber airbag hanya salah satu cara BPPT untuk memanfaatkan karet alam. Asep mengatakan, saat ini BPPT tengah berusaha mengolah karet menjadi vulkanisir pesawat.

Rubber Airbag Sudah Siap Produksi

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, mengadakan kunjungan ke PT Indonesia Marine Shipyard di Gresik dalam rangka persiapan pengujian lapangan produk inovasi rubber air bag. Menurut rencana, tahap pengujian lapangan akan segera dilaksanakan di perusahaan galangan kapal swasta terbesar di kota Gresik tersebut, yang juga menjadi end user dari produk rubber air bag produksi dalam negeri ini. Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan struktur rubber air bag saat digunakan di lingkungan sebenarnya.

Kunjungan persiapan pengujian lapangan yang merupakan bagian dari program Insentif Teknologi dari Kemenristekdikti ini, dilakukan dalam rangka mendorong hilirisasi produk inovasi dalam negeri. Hadir dalam kunjungan tersebut, Santosa Yudo Warsono, Direktur Inovasi Industri, Kemenristekdikti, yang disambut oleh Direktur Utama PT Indonesia Marine Shipyard, Nugroho Basuki, beserta jajarannya. Hadir pula Sofian Lesmanto, Direktur Utama PT Mitra Prima Sentosa sebagai perusahaan penerima insentif dari Kemenristekdikti, dan Mahendra Anggaravidya, peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Rubber air bag sendiri merupakan produk yang digunakan industri perkapalan untuk membantu proses menaikkan dan menurunkan kapal di galangan, baik dalam pembangunan kapal baru maupun reparasi kapal bekas. Produk rubber air bag yang selama ini sepenuhnya diimpor dari Tiongkok, rupanya mampu diproduksi oleh industri dalam negeri. PT Mitra Prima Sentosa yang merupakan salah satu perusahaan penerima insentif Kemenristekdikti untuk Tahun Anggaran 2016, bersama BPPT telah melakukan riset pembuatan rubber air bag dan telah menghasilkan prototype yang siap diuji di lapangan.

Dengan kualitas yang sama dengan produk impor sejenis, kelebihan rubber air bag buatan dalam negeri ini adalah dari segi harganya yang diklaim 30% lebih murah dibandingkan harga impor yang mencapai 80 hingga 150 juta rupiah. Selain itu, karet alam sebagai bahan baku utama dinilai memiliki kelebihan tahan sobek dan tahan gesek. Apabila lolos uji, ke depannya produk ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan rubber air bag dalam negeri khususnya bagi industri perkapalan nasional, sehingga impor tidak perlu lagi dilakukan.

Demikianlah informasi mengenai terciptanya rubber airbag yang sudah berhasil diproduksi oleh Indonesia, kayaknya patut diacungkan jempol nih Indonesia, salut banget deh!