Kisah Dari Patung Sigale-Gale

Sigale-gale adalah patung yang terbuat dari kayu dengan bentuk dan rupa yang hampir sama dengan manusia. Patung sigale-gale biasa digunakan pada beberapa upacara penting dan juga sebagai penyambutan tamu Istimewa. Keunikan dari patung Sigale-gale tidak seperti patung biasa yang digerakkan dengan bantuan tangan. Lain halnya dengan patung Sigale-gale yang dapat bergerak dan menari tanpa bantuan apapun dalam arti Patung Sigale-gale sudah dimasuki Roh Leluhur sehingga patung tersebut dapat bergerak seperti layaknya manusia.

Pada awal pembuatan patung Sigale-gale, jumlah patung Sigale-gale sangat banyak. Seiring berjalannya waktu, patung Sigale-gale sebagian kecil telah hancur termakan usia dan hanya tinggal beberapa patung yang masih bertahan.

Patung Sigale-gale yang aslinya berasal dari tanah Batak yang sudah terkenal sejak lama hingga kini. Untuk melihat karya seni tradisional patung Sigale-gale, hanya dapat ditemukan pada Pulau Samosir dan juga beberapa tempat lainnya yang berhubungan dengan Samosir seperti Museum Hutabolon. Untuk melihat atraksi seni Batak ini, pengunjung dapat melihatnya dengan biaya sukarela dan tanpa batasan usia.

Hal yang sangat menarik dari pertunjukan patung Sigale-gale tidak hanya menunjukkan penampilan Patung saja, melainkan diiringi dengan musik Gondang Batak dan dengan penari yang berjumlah 8 sampai 10 orang.

Pertunjukan tarian Sigale-gale merupakan salah satu pertunjukan yang sangat menyenangkan. Boneka kayu yang dapat menari layaknya seperti manusia dengan proses pembuatannya terbilang sangat sulit dan tingginya dapat melebihi ketinggian manusia yang berkisar satu setengah meter serta dengan balutan pakaian Tradisional Batak.

Tidak hanya seperti patung lainnya yang hanya bisa diam ditempat dan tidak hanya sekedar menari. Melainkan Patung Sigale-gale dapat memutarkan kepalanya kekiri dan kekanan serta juga dapat jonggkok saat menari. Untuk menampilkan Sigale-gale dapat dimainkan diberbagai tempat dan setelah penampilannya selesai, patung Sigale-gale hanya akan diletakkan diatas Peti Mati.

Pada awalnya, pada jaman dahulu kala, Patung Sigale-gale dikatakan hanya dimainkan oleh satu Dalang. Dalang yang memainkan Sigale-gale dikenal dengan nama Raja Gaius Rumahorbo yang berasal dari Desa Garoga Tomok. Raja yang terkenal tersebut telah melakukan Festival Sigale-gale sekitar tahun 1930-an.

Pada suatu hari, ada beberapa pengunjung dengan tujuan ingin melihat penampilan Sigale-gale yang pada saat itu sudah berusia 30 sampai 70 tahun. Kedatangan pengunjung tersebut disambut hangat oleh Keturunan Raja Gaius dengan minum Anggur dan juga makanan yang dikenal Natinombur yang berarti Ikan bakar dengan ramuan sambal Khas Batak.

Kini, untuk memainkan Patung Sigale-gale dapat dimainkan oleh 2 dalang yang berada di belakang Patung Sigale-gale dengan peran yang berbeda-beda. Untuk memainkan Patung Sigale-gale, Musik batak yang dilakukan selama setengah jam tidak jauh dari pertunjukan.

Berdasarkan pembuatan Patung Sigale-gale, itu memiliki cerita yang penuh dengan misteri. Menurut cerita dari penduduk setempat, bagi orang yang membuat patung Sigale-gale itu berarti orang tersebut telah siap dijadikan sebagai korban dengan arti jika pembuatan Patung Sigale-gale selesai, orang tersebut akan mati. Itulah sebabnya mengapa pembuatan Patung tidak dibuat sebanyak mungkin.

Dengan cerita mistis tersebut, pembuatan Patung Sigale-gale sekarang dilakukan lebih dari satu orang. Masing-masing memiliki tugas tersendiri seperti pembuatan tangan, kaki, badan dan juga kepala.

Proses pembuatan Patung biasanya menggunakan kayu dari Pohon yang disebut Ingul dan juga Pohon Nangka. Biasanya tangan dan kepala patung terbuat dari kayu pohon nangka dan badan serta kaki terbuat dari Kayu pohon Ingul. Kayu yang dipakai untuk pembuatan Patung Sigale-gale dipercaya  sangat berkualitas dan dapat bertahan lebih hingga 1 tahun.

Proses pembuatan yang termasuk sangat rumit dan juga penuh misteri serta penyimpanannya juga harus pada tempat yang khusus. Patung Sigale-gale tidak dapat disimpan pada sembarangan tempat melainkan ada tempat yang sangat khusus yang disebut sebagai Penyembuh Sopo atau yang biasa dikenal Rumah-Rumahan di Tengah Sawah.

Patung Sigale-gale awalnya memiliki kisah yang berasal dari seorang Raja yang sangat kaya dengan nama Rahat. Raja tersebut memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Si Manggale. Raja sangat mengiginkan Simanggale memiliki pasangan dan segera untuk menikah, tetapi Simanggale tidak mudah suka dengan Wanita yang menyukainya.

Pada suatu hari, Raja yang mengutus Simanggale untuk berperang dengan tujuan mempertahankan dan memperluas Kerajaan. Dalam pertempuran tersebut, Simanggale tewas di medan perang. Untuk mengenang dan menghormati kematian anaknya, Sang Raja memerintahkan Prajuritnya membuat Patung yang sangat mirip dengan anaknya dan juga dinamakan sebagai Sigale-gale.

Setelah Patung tersebut selesai dibuat, Patung itu ditempatkan di Sopo Penyembuh yang tidak jauh dari Kerajaan. Dalam upacara kematian Simanggale Patung, diambil dan diletakkan kesamping mayat anak sang Raja. Jadi, pembuatan patung Sigale-gale diartikan sebagai lambang Duka Cita.