Victoria Jadi Wilayah Pertama di Australia Yang Rela Lakukan Perdebatan Demi Legalkan Euthanasia

Tahukah kalian istilah euthanasia atau yang lebih akrab disapa suntik mati? Yah, itu adalah pilihan yang kerap dipilih oleh orang yang mengalami sakit parah yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya agar tidak merasakan sakit yang dideritanya. Suntik mati sendiri sebenarnya merupakan tindakan terlarang yang dilarang keras oleh MUI dan negara Indonesia, akan tetapi tidak untuk Victoria. Yah, Victoria di Australia menjadi wilayah pertama yang melegalkan hukum suntik mati atau yang lebih dikenal dengan sebutan eutanasia itu. Katanya hal tersebut dilakukan untuk pasien yang dianggap memiliki peluang hidup yang kecil akibat penyakit yang diderita.

Suntik mati adalah suatu tindakan menyuntikkan racun berdosis tinggi pada seseorang untuk menyebabkan kematian. Penggunaan utamanya adalah untuk eutanasia, bunuh diri dan hukuman mati. Sebagai metode hukuman mati, suntik mati mulai mendapat popularitas pada abad ke-20 untuk menggantikan metode lain seperti kursi listrik, hukuman gantung, hukuman tembak, kamar gas atau hukuman pancung yang dianggap lebih tidak berperikemanusiaan, walaupun masih terus diperdebatkan sisi kemanusiaannya.

Pada eutanasia, suntik mati juga telah dipergunakan untuk memfasilitasi kematian sukarela pada pasien-pasien dengan kondisi terminal atau sakit kronis. Kedua penerapan ini menggunakan kombinasi obat yang serupa. Nah, untuk mendapatkan perbolehan akan adanya suntik mati, Victoria telah melakukan perdebatan yang begitu alot hingga akhirnya keputusan tersebut ditetapkan. Penasaran seperti apa bentuk perdebatan yang telah dilakukan Victoria untuk mendapatkan persetujuan tersebut? Simak terus artikle ini yaa.

Perdebatan 100 Jam di Parlemen

Victoria menjadi negara bagian pertama di Australia yang melegalkan kematian dengan bantuan untuk mereka yang menderita sakit parah. Hasil pemungutan suara anggota Parlemen setempat menunjukkan mereka memberi hak kepada para pasien untuk meminta obat mematikan demi mengakhiri hidup, mulai dari pertengahan tahun 2019.

Setelah lebih dari perdebatan 100 jam di Parlemen serta sidang dua malam berturut-turut, para anggota Parlemen di DPR Victoria akhirnya meratifikasi amandemen rancangan undang-undang (RUU) yang diajukan Pemerintahan Daniel Andrews. RUU itu kini akan diserahkan ke Gubernur Jenderal untuk mendapatkan persetujuan Kerajaan. Menteri Utama Victoria, Daniel Andrews, yang mendukung euthanasia (permohonan kematian dengan bantuan biasanya melalui suntikan atau obat yang mematikan) setelah kematian ayahnya tahun lalu, mengucapkan terima kasih kepada para koleganya termasuk Menteri Kesehatan Jill Hennessy, atas kerja keras mereka dalam meloloskan RUU yang diamandemen tersebut.

“Hari ini saya bangga bahwa kami mengutamakan kasih sayang di tengah kegiatan Parlemen kami dan di sepanjang proses politik kami,” ujarnya. “Itu adalah politik dalam bentuk terbaik dan Victorialah yang mempraktikkan itu sebagai pelopor di negara kami.”

Lewat akhir perdebatan yang dramatis selama berhari-hari, rancangan undang-undang (RUU) kematian secara sukarela yang diajukan oleh Pemerintahan Daniel Andrews akhirnya lolos -dengan amandemen -dengan hasil akhir 22-18 dari 40 suara anggota Senat Victoria.

Proses itu mencerminkan suara hati semua anggota Parlemen. Sebelas anggota Parlemen pemerintah mendukung RUU tersebut, seperti juga empat anggota Partai Liberal, lima anggota Partai Hijau, Fiona Patten dari Partai Reason serta anggota Parlemen dari Partai Local Jobs, James Purcell. Karena amandemen RUU tersebut disetujui maka sekarang aturan itu harus dikembalikan ke DPR Victoria untuk diratifikasi sebelum menjadi undang-undang.

Perubahan atau amandemen dari RUU itu termasuk memangkas masa tunggu pasien untuk bisa mengakses skema tersebut, dari yang tadinya 12 bulan menjadi 6 bulan dari masa hidup. Akan ada pengecualian bagi penderita dengan kondisi seperti gangguan syaraf motorik dan sklerosis ganda yang hanya memiliki perkiraan sisa umur selama 12 bulan. Pemerintahan Andrews juga berjanji mengalokasikan 62 juta dolar (atau setara Rp 620 miliar) selama 5 tahun untuk kematian sukarela dan perawatan paliatif.

Perundang-undangan tersebut mensyaratkan sejumlah perubahan agar bisa lolos di Senat, termasuk ketentuan mengurangi separuh kerangka waktu bagi pasien yang memenuhi syarat untuk mengakses skema tersebut dari, yang tadinya, 12 bulan terakhir perkiraan masa hidup menjadi enam bulan saja.

Akan ada pengecualian bagi penderita sejumlah kondisi seperti penyakit syaraf motorik dan sklerosis ganda (penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, terutama otak, saraf tulang belakang dan saraf mata) yang berhak mengakses skema ini dalam 12 bulan terakhir dari perkiraan masa hidup mereka. Setelah lolos, undang-undang baru itu akan memberi pasien yang menderita rasa sakit tak tertahankan, sebuah hak untuk memilih kematian yang dibantu dokter mulai tahun 2019.

Menteri Utama Victoria, Daniel Andrews mengatakan bahwa undang-undang tersebut akan memberi martabat kepada orang-orang yang sakit parah di penghujung hidup mereka. “Hari ini semuanya tentang emosi, dan ini semua tentang belas kasih,” ujar Andrews.

Pelanggaran Kriminal Baru Lindungi Pihak Yang Rentan

Para penentang sempat membuat upaya terakhir untuk menggagalkan RUU itu dengan mengusulkan untuk menangguhkan debat dalam jangka waktu yang tak terbatas, namun upaya itu kalah dengan hasil suara 46-37. Menteri Natalie Hutchins tak mengikuti voting itu karena ia tengah menghadiri pemakaman suaminya di negara bagian New South Wales dan tak diberi kesepakatan pengganti.

Di bawah legislasi baru ini, warga Victoria dengan penyakit parah akan bisa memperoleh obat mematikan dalam waktu 10 hari sejak ia mengajukan permintaan untuk mati, setelah menyelesaikan proses 3 tahap yang melibatkan dua pemeriksaan medis independen. Pemohon kematian sukarela harus berusia di atas 18 tahun, berakal sehat, dan telah tinggal di Victoria setidaknya selama 12 bulan dan menderita penyakit yang ‘tak bisa disembuhkan dalam cara yang bisa ditoleransi penderita’.

Ada Penentang Yang Ingin Gagalkan Penetapan Keputusan

Debat terus berlanjut dengan pihak penentang yang menanyai puluhan dari 141 pasal. Para pendukung RUU tersebut menuduh para pengkritik berusaha menggagalkan penetapan aturan itu. Ada kebuntuan tentang apakah sidang Parlemen ditunda untuk mengizinkan anggota Parlemen beristirahat, namun para pendukung RUU tak bersedia melakukannya karena mereka menginginkan agar undang-undang tersebut diloloskan.

Hasil pemungutan suara terakhir muncul setelah debat yang berlangsung lebih dari 24 jam di Senat pekan lalu. Saat itu, satu anggota Parlemen yang menentang undang-undang tersebut menggunakan istilah “Nazi” di sidang tersebut Perdebatan itu sempat ditunda saat anggota Parlemen dari Partai Buruh, Daniel Mulino, ambruk dan dibawa pergi dengan sebuah ambulans.

Pemimpin pemerintah di Senat, Gavin Jennings, telah menuduh lawan mencoba mengeluarkan perdebatan yang “jauh melampaui persyaratan argumen yang masuk akal” untuk mencoba menunda lolosnya RUU itu di Parlemen.

Lawan menggunakan perdebatan panjang untuk menantang berbagai elemen undang-undang, termasuk akses terhadap obat dan jenis obat apa yang akan digunakan untuk dosis mematikan itu sesuatu yang belum diumumkan oleh Pemerintah.

Di bawah undang-undang tersebut, warga Victoria yang sakit parah akan bisa memperoleh obat-obatan mematikan dalam waktu 10 hari setelah mereka meminta untuk meninggal, menyusul proses pengajuan permintaan tiga tahap yang melibatkan dua penilaian medis independen.

Mereka harus berusia di atas 18 tahun, memiliki pikiran yang sehat, telah tinggal di negara bagian Victoria setidaknya selama 12 bulan dan menderita penyakit yang “tak bisa diobati dengan cara yang bisa ditolerir pasien”. Pasien harus mengonsumsi obat itu sendiri, namun dokter bisa memberikan dosis mematikan itu dalam kasus yang jarang terjadi yakni ketika pasien secara fisik tak bisa mengakhiri hidup mereka sendiri.

Undang-undang tersebut mencakup 68 “perlindungan”, termasuk tindak pidana baru demi melindungi orang-orang yang rentan dari penyalahgunaan dan pemaksaan dan dewan khusus untuk meninjau semua kasus. RUU itu beserta amandemennya dikembalikan ke DPR Victoria pekan depan.

Sebelum Victoria, Kolombia Juga Legalkan Suntik Mati

Jauh sebelum negara bagian Victoria, Kolombia sudah terlebih dahulu melegalkan suntik mati. Pada Juli 2015, seorang pria berusia 79 tahun, menjadi orang pertama di Kolombia yang dibolehkan secara hukum untuk euthanasia atau suntik mati. “Ovidio Gonzalez menderita kanker tenggorokan tingkat akhir dan mengatakan, ia telah menderita sakit yang tak tertahankan,” demikian seperti dikutip dari BBC.

Gonzalez meninggal di kota barat Pereira. Dia menghabiskan beberapa minggu berjuang dengan dokter dan administrator di rumah sakit, demi melaksanakan keputusan Departemen Kesehatan yang mewajibkan klinik untuk melakukan prosedur ketika diminta oleh pasien yang sakit parah. “Ayahku menerima kabar (bahwa prosedur tersebut telah disetujui) dengan lega,” kata putra Gonzalez, Julio Cesar yang merupakan kartunis surat kabar Kolombia, El Tiempo. “Sangat disayangkan ayahku meninggal dengan cara seperti itu. Ayahku seharusnya layak pergi tanpa banyak pemberitaan,” ucap pria yang lebih dikenal dengan nama Matador atau The Killer.

Gereja Katolik Kolombia mengatakan euthanasia secara moral tidak dapat diterima. Mereka pun mengancam untuk menutup rumah sakit di seluruh negeri. Euthanasia juga sangat kontroversial di Roma yang didominasi penganut Katolik. Kolombia adalah satu dari sedikit negara di dunia dan satu-satunya di Amerika Latin, di mana euthanasia diperbolehkan.

Upaya bunuh diri legal itu telah disetujui oleh Mahkamah Konstitusi pada 1990-an. Tapi tidak ada prosedur pasti untuk melakukannya karena belum ada aturan. Barulah pada Mei 2015, kementerian kesehatan turun tangan dan mengeluarkan seperangkat pedoman untuk rumah sakit menjalankan prosedur suntik mati.

Seperti Apa Proses Euthanasia?

Euthanasia adalah pengakhiran kehidupan seseorang yang sedang dalam keadaaan sangat sakit untuk membebaskannya dari penderitaan. Euthanasia diklaim tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal. Seseorang yang mengalami euthanasia biasanya memiliki kondisi penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Tapi ada kasus lain yang mana beberapa orang ingin hidupnya berakhir.

Dalam banyak kasus, hal itu dilakukan atas permintaan pasien sendiri, tetapi ada saat-saat ketika pasien mungkin terlalu sakit keputusan dibuat oleh saudara, tenaga medis atau dalam beberapa kasus oleh pengadilan. Euthanasia ini hanya terjadi di beberapa negara saja seperti Belanda, Swiss atau Amerika. Tapi lebih banyak negara yang melarang pelaksanaan euthanasia.

Euthanasia terbagi dalam berbagai bentuk, yang masing-masing membawa yang berbeda kebenaran dan kesalahan masing-masing, antara lain:

Eutanasia aktif dan pasif

Dalam euthanasia aktif, dokter atau tenaga langsung dan sengaja menyebabkan kematian pasien, misalnya dengan memberikan pasien obat secara overdosis, memberikan tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien. Euthanasia pasif terjadi ketika pasien meninggal karena para profesional medis tidak melakukan sesuatu yang diperlukan untuk menjaga pasien tetap hidup atau menghentikan melakukan sesuatu yang menjaga agar pasien tetap hidup. Contoh euthanasia pasif antara lain mematikan mesin penunjang hidup, melepas sebuah tabung makan, tidak melakukan operasi memperpanjang hidup atau tidak memberikan obat memperpanjang hidup.

Euthanasia sukarela dan non-sukarela

Eutanasia sukarela terjadi atas permintaan dari pasien atau orang yang akan meninggal, misalnya dengan menolak perawatan medis, meminta perawatannya dihentikan atau mesin pendukung kehidupannya dimatikan atau menolak untuk makan. Sedangkan euthanasia non-sukarela terjadi ketika pasien sadar atau tidak, sehingga ada orang lain yang mengambil keputusan atas namanya. Euthanasia non-sukarela bisa terjadi pada kasus-kasus seperti pasien sedang koma, pasien terlalu muda (misalnya bayi, orang pikun, mengalami keterbelakangan mental yang sangat parah atau gangguan otak parah).

Euthanasia langsung

Euthanasia langsung berarti memberikan perlakuan (biasanya untuk mengurangi rasa sakit) yang memiliki efek samping mempercepat kematian pasien.

Bantuan bunuh diri

Hal ini biasanya mengacu pada kasus-kasus yang mana orang yang akan mati membutuhkan bantuan untuk membunuh dirinya sendiri dan meminta tenaga medis untuk melakukannya.

Kapan Suntik Mati Dilakukan?

Euthanasia merupakan metode yang dilakukan untuk mempercepat kematian seseorang dengan cara yang mudah dan tidak menyakitkan. Ada beberapa macam euthanasia, ada yang memang sukarela meminta dilakukan tindakan tersebut, ada juga yang disebabkan oleh keadaan yang mengharuskan dokter mengambil tindakan tersebut. Tindakan tersebut juga bisa diputuskan oleh kerabat terdekat pasien. Ada asumsi bahwa tindakan tersebut sama seperti bunuh diri.

Faktanya tindakan tersebut diambil berdasarkan beberapa pertimbangan. Seperti mengakhiri kehidupan seseorang karena kecil kemungkinan seseorang itu bisa sembuh, atau mengakhiri hidup seseorang untuk mengurangi efek samping dari pengobatan yang sudah tidak bisa lagi ia tahan. Namun perlu digarisbawahi bahwa tidak semua negara setuju dengan hukum dari melakukan euthanasia, contohnya di Selandia Baru, mengakhiri hidup sendiri masih dianggap sebagai kejahatan.

Prosedur euthanasia boleh dilakukan pada pasien yang menderita sebuah penyakit terminal (fase akhir penyakit di mana peluang kematian muncul sangat besar sehingga fokus bergeser dari terapi menyembuhkan penyakit menjadi menyediakan perawatan paliatif atau meringankan rasa sakit).Namun, masalahnya tidak terletak pada definisi tetapi dalam penafsiran definisi.

Jika dilihat dari definisinya, euthanasia juga memungkinkan pagi pasien yang menderita parah untuk meminta asistensi pengakhiran hidup. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa pasien yang sakit parah yang cenderung berpikir untuk bunuh diri melakukannya bukan karena penyakit terminal mereka, tetapi karena depresi berat akibat penyakit yang diidapnya. Deklarasi World Federation of Right to Die Societies tahun 1998 Zurich menyatakan bahwa orang-orang “yang menderita kesengsaraan yang melumpuhkan” memenuhi syarat untuk meminta asistensi bunuh diri. Lembaga ini percaya bahwa seseorang tidak perlu mengidap penyakit terminal agar memenuhi syarat menjalani euthanasia atau PAS, asalkan “penderitaannya tidak tertahankan”.

Lalu bagaimana sudut pandang melakukan euthanasia dari sudut pandang dokter? Ahli terapi paliatif berpendapat bahwa sebenarnya euthanasia atau suntik mati tidak perlu dilakukan di jaman modern ini. Ilmu kesehatan semakin berkembang, begitu juga dengan metode pengobatan dan perawatan. Seharusnya pasien tetap dikuatkan mentalnya dan diberi perawatan yang benar-benar menimimalisir rasa sakit, sehingga kematian tersebut bisa datang secara alami. Dokter juga harus mempertimbangkan sikapnya saat euthanasia datang dari keluarga atau kerabat pasien. Bisa saja mereka memang tidak ingin menginginkan pasien sembuh, maka riset pun perlu dilakukan.

Tidak hanya pasien yang mengalami gejolak batin, dokter pun mengalaminya saat permintaan suntik mati datang dari pasien dan kerabat. Dokter berusaha sebisa mungkin untuk mencegah suntik mati terjadi, namun semua yang berada dalam situasi tak mudah tersebut harus melihat masalah dengan jernih. Mungkin di benak anda, dokter tidak merasakan pergolakan batin, padahal tentu mereka mengalaminya. Beberapa mengakui hal terberat adalah melihat pasien tersebut meminum pil dosis tertentu untuk mempercepat hidupnya. Beberapa ahli juga merasa frustasi dengan anggapan ‘tidak bermoral’ karena membantu pasien bunuh diri.

Alasan Diperbolehkannya Melakukan Euthanasia

Mereka yang mendukung euthanasia berpendapat bahwa masyarakat yang beradab harus memungkinkan orang untuk mati dalam martabat dan tanpa rasa sakit, dan harus memungkinkan orang lain untuk membantu mereka melakukannya jika mereka tidak bisa mengelolanya sendiri.

Mereka mengatakan bahwa tubuh adalah hak prerogatif pemiliknya sendiri, dan kita harus diizinkan untuk melakukan apa yang kita inginkan dengan tubuh kita sendiri. Jadi, mereka menganggap bahwa mengupayakan kehidupan yang lebih lama bagi yang tidak menginginkannya adalah salah. Bahkan membuat orang terus hidup ketika mereka tidak ingin melanggar kebebasan pribadi dan hak asasi manusia. Tidak bermoral, ujar mereka, untuk memaksa orang untuk terus hidup dalam penderitaan dan rasa sakit. Mereka menambahkan bahwa tindakan bunuh diri bukan merupakan tindak pidana, maka dari itu euthanasia tidak harus digolongkan sebagai kejahatan.

Nah, begitulah upaya besar yang dilakukan Victoria agar mendapatkan persetujuan untuk melakukan suntik mati bagi mereka yang tak lagi kuat menahan derita dari rasa sakit yang dialami. Semoga bermanfaat.