Suku di Pulau Yap Masih Melakukan Transaksi Dengan Menggunakan Koin Batu

Di zaman modern sekarang ini kita menggunakan uang kertas atau logam sebagai bentuk transaksi untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Akan tetapi beda halnya sama suku yang ada di pulau Yap, yang sering menggunakan koin yang terbuat dari batu sebagai mata uang untuk melakukan transaksi jual beli.

Mata uang tersebut benar-benar terbuat dari batu lho, bukan seperti uang koin atau kertas seperti yang biasa kita gunakan. Selain unik, uang batu ini miliki sejarahnya sendiri. Maka bagi penduduk pulau Yap uang ini sangat berharga dan dipertahankan oleh penduduk sebagai budaya tukar barang. Selain memiliki pulau yang cantik, para traveller yang berkunjung ke pulau ini juga bakal menemukan budaya dan adat yang sangat kental. Di Pulau Yap tersebut, para traveller akan menemukan ‘Uang Batu’ yang dimanfaatkan masyarakat sebagai transaksi.

Awal Mula Penemuan Batu Rai

Pulau Yap di Kepulauan Pasifik merupakan salah satu dari empat negara bagian yang membentuk negara kepulauan yang berdaulat, bernama Mikronesia. Pulau-pulau seluas sekitar 100 kilometer persegi ini adalah rumah bagi sekitar 12.000 orang. Pulau Yap tidak memiliki materi berharga seperti emas atau perak. Maka dari itu penduduk setempat menggunakan disk batu kapur (limestone) raksasa yang disebut Rai sebagai mata uang atau alat tukar.

Batu Rai adalah disk batu besar dengan lubang di tengah seperti donat dan berdiri setinggi 12 meter dengan berat lima ton. Beberapa batu-batu ini begitu besar, mereka tidak bergerak secara fisik sama sekali. Mereka hanya dimiliki seperti aset tak bergerak dan transaksi atau kepemilikan mereka dicatat dalam sejarah lisan. Lokasi dari Rai tidak penting, kepemilikannya lah yang penting.

Dalam satu contoh, sebuah Rai besar sedang diangkut dengan sampan ketika tak sengaja terjatuh dan tenggelam ke dasar laut. Meskipun tidak pernah terlihat lagi, semua orang setuju bahwa Rai tersebut masih berada di sana sehingga terus ditransaksikan sebagai mata uang asli. Ketika memindahkan Rai diperlukan tiang yang kuat melewati lubang ditengahnya dan dibawa oleh orang untuk tujuan yang diperlukan. Batu kecil Rai berdiameter sekitar 7-8 cm dan jauh lebih mudah untuk bertransaksi.

Batu kapur ini awalnya dipahat dari tambang di pulau Palau yang terletak sekitar 400 kilometer jauhnya. Batu kapur tidak ada di Yap dan karena itu sangat berharga bagi orang-orang Yap. Nilai atau harga dari batu didasarkan pada ukuran dan keahlian, jika batu semakin besar maka nilainya juga semakin tinggi. Jumlah waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mengangkut batu juga menambah nilainya. Kadang-kadang orang yang mengangkut batu Rai akan mati selama perjalanan. Hilangnya nyawa ini meningkatkan nilai batu tergantung pada berapa banyak orang yang hilang atau mati selama pengangkutan.

Perdagangan batu Rai akhirnya tidak digunakan pada awal abad ke-20 akibat perselisihan perdagangan antara kepentingan Spanyol dan Jerman di daerah tersebut. Ketika pasukan Kekaisaran Jepang mengambil alih Yap selama Perang Dunia II, banyak batu Rai digunakan untuk konstruksi atau sebagai jangkar. Meskipun mata uang modern telah menggantikan batu sebagai mata uang sehari-hari, batu Rai masih dipertukarkan dengan cara-cara tradisional antara orang-orang Yap, terutama dalam transaksi sosial yang penting langka seperti pernikahan, warisan, penawaran politik atau tanda aliansi.

Melakukan Transaksi Dengan Menggunakan Koin Batu

Koin batu yang berkisar antara 3,5 cm hingga 4 meter dalam diameternya. Salah satu jalur tua menyeberangi tanah suci yang pernah menjadi tuan rumah pertemuan para kepala, yang dikelilingi oleh puluhan batu besar sekarang tengah dipertimbangkan untuk masuk dalam Daftar Warisan Dunia.

Beberapa batu besar tak pernah dipindahkan meskipun mereka telah berpindah tangan dalam transaksi seperti penjualan tanah, pernikahan dan kompensasi atas kerusakan pribadi. Dolar Amerika digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Pada bulan Maret lalu, pulau ini merayakan budaya mereka dalam pertunjukan tari, lagu dan kostum tahunan. Para perempuan mengenakan rok rumput berwarna-warni dan menggosok tubuh mereka dengan campuran minyak kelapa dan kunyit. Sedangkan para pria mengenakan cawat merah dan membawa tas tenun mereka, biasanya mengandung campuran sirih pinang atau ramuan herbal yang dikunyah dengan jeruk limau.

Melihat sejarahnya, Pulau Yap awalnya dihuni oleh imigran dari titik paling selatan daratan Asia, Semenanjung Melayu, dan juga Kepulauan Indonesia, Papua Nugini serta beberapa Kepulauan Solomon.

Dalam beberapa tahun terakhir, Yap telah berpindah tangan empat kali. Pertama, kedatangan Spanyol di tahun 1500-an, sebelum Jerman memerintah di tahun 1800-an dan Jepang mengambil alih setelah Perang Dunia 1. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia 2, Amerika mengambil alih dan meskipun Yap serta FSM adalah negara independen di bawah Compact of Free Association (COFA), AS mengontrol kebijakan dan pertahanan luar negeri mereka.

Melalui berbagai era kolonial, anggota suku Yap telah memegang budaya asli mereka dan tradisi untuk pergi ke laut. Laki-laki masih menavigasi dengan bintang-bintang dan membuat perjalanan sesekali ke Palau dan Guam dengan sampan besar mereka. Di antara navigator paling terkenal di Pasifik, beberapa pelaut senior mereka membantu mendidik generasi Polinesia di Hawaii pada tahun 1960-an yang telah kehilangan keterampilan navigasi kano di laut dalam.

Suku Yap ingin mempertahankan budaya hidup mereka dan memamerkannya, tapi tantangan yang mereka hadapi adalah bagaimana mengembangkan industri pariwisata mereka tanpa kehilangan kontrol pembangunan dan apa yang membuat pulau mereka begitu unik.

Nah, ketika didinggung mengenai pengetahuan mereka, orang tua disana hanya tertawa dan berkata kebijaksanaan mereka ada “di keranjang”, referensi pada cara mereka menangani masalah penting dengan menggali keranjang pandan anyaman dan menarik keluar beberapa sirih untuk mengunyahnya, sebelum keputusan dibuat. Semuanya terjadi dalam tradisi waktu orang pulau di sini.

Karena isolasi dan koneksi penerbangan yang terbataslah yang menyebabkan Yap hanya dikunjungi sedikiti wisatawan setiap tahunnya, yakni sekitar 5.000 orang. Sebagian besar penduduk setempat ingin lebih banyak program pariwisata untuk mendukung perekonomian tetapi terbagi suaranya akibat proposal pembangunan resor baru milik warga China, setelah kekhawatiran muncul di negara tetangga Palau yang mengalami lonjakan besar pengunjung dan kepemilikan hotel serta bisnis selam dari China.

Mata Uang Unik Lainnya Dari Berbagai Belahan Dunia

Uang tak harus selalu dalam bentuk uang receh logam atau uang kertas saja. Kadangkala bentuk uang bisa berbeda dari bentuk umumnya. Beberapa negara di seluruh penjuru dunia ada yang menerbitkan mata uang yang bersinar dalam gelap, berisi air suci di tiap koin logamnya atau malah bisa berpidato.

Namun ternyata, ada beberapa negara yang menyisakan sebuah kisah unik dibalik mata uang yang digunakan sebagai alat penukar atau pembayaran. Ada yang digunakan pada zaman dulu bahkan ada juga yang masih digunakan hingga sampai sekarang. Berikut di bawah ini adalah beberapa mata uang unik dari berbagai belahan dunia.

1. Uang Pecahan Terbesar Hungaria

Salah satu negara di Benua Eropa ini pernah memegang rekor sebagai negara dengan pecahan mata uang terbesar di dunia lho karena Hungaria pernah mencetak uang kertas bernominal 100 juta triliun (100 kuintiliun) Pengo di tahun 1946. Pada saat itu, jika dikonversi jumlahnya hanya sekitar US$20 sen. Uniknya karena jumlah nol terlalu banyak, bank sentral batal mengedarkan uang tersebut.

2. Uang Kayu Jerman

Setelah Perang Dunia I, Jerman jatuh ke dalam depresi ekonomi paling buruk dalam sejarah. Tingkat inflasi tak terkendali, yang memaksa banyak kota membuat mata uang sendiri yang disebut sebagai “Notgeld” atau uang darurat. Mata uang tersebut terbuat dari bahan apapun yang bisa mereka buat dengan tangan, termasuk dari bahan kayu seperti foto diatas. Saat ini Notgeld menjadi benda koleksi yang sangat mahal dan selalu dicari orang.

3. Uang Kumpulan Voucher Vietnam

Di tahun 70-an, Vietnam sempat mengeluarkan uang yang hanya bisa digunakan untuk membeli pakaian atau perlengkapan lainnya. Bentuknya didesain seperti kumpulan voucher. Jika pengin menggunakannya, kita tinggal memotong uang tersebut sesuai dengan harga barang yang diinginkan.

4. Uang Kertas Penghematan dari Zaire

Pada tahun 1997, rezim totaliter Joseph Mobutu, Pendiri Negara Afrika Zaire terjungkal. Akibat kondisi keuangan negara yang seret, Republik Demokratik Kongo, nama baru dari negara tersebut, memutuskan untuk melakukan penghematan. Mereka tidak mencetak mata uang baru, tapi hanya memotong bagian wajah pemimpin lama mereka dari lembaran kertas uang yang beredar. Alhasil bertebaranlah lembaran uang kertas bolong di seluruh negara Kongo.

5. Koin Air Suci Palau

Negara kepulauan di Samudera Pasifik ini pernah mencetak koin perak bergambar Bunda Maria. Diedarkan pada tahun 2007, koin ini bertulisan Ave Maria Laurdes. Uniknya koin ini juga dilengkapi bonus botol kecil berisi mata air suci dari Grotto, Perancis. Lucu bukan?

6. Koin Kanada Yang Bisa Menyala Ketika Gelap

Mungkin hanya untuk bersenang-senang, Kanada menciptakan koin koleksi yang bisa berpendar dalam gelap. Koin itu bergambar seekor dinosaurus jenis Pachyrhinosaurus lakustai, yang fosilnya ditemukan di Alberta pada 1972. Di sisi sebelahnya bergambar Ratu Elizabeth yang ini tak bercahaya.

7. Koin Pidato JFK di Mongolia

Ini mungkin mata uang paling aneh dalam daftar ini. Pada tahun 2007 Mongolia menerbitkan koin bergambar Presiden AS John F Kennedy. Ini cukup aneh mengapa Mongolia membuat gambar Presiden Amerika di mata uangnya. Tapi yang lebih aneh lagi, koin tersebut bisa mengeluarkan suara pidato terkenal JFK saat berada di Jerman Barat berjudul “Ich bin ein Berliner” atau “I am Berliner”. Sampai sekarang masih belum jelas alasan mengapa Mongolia memutuskan membuat koin ini.

8. Bitcoin

Bitcoin adalah mata uang digital. Tak ada yang mengontrol mata uang ini dan mata uang ini tidak dicetak. Nilai mata uang ini hanya tersimpan di server super komputer. Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin menjadi semakin populer dan makin banyak bisnis online yang mulai menerima transaksi memakai mata uang jenis ini. Ini mungkin bisa disebut sebagai mata uang ghaib

Nah, buat sekarang pemerintah di pulau Yap masih menganggap kalau uang batu itu merupakan cagar budaya dan memberikan perlindungan resmi. Penduduk Yap pun masih meninggalkan uang mereka dipinggir jalan agar dilihat oleh semua orang.