Sejarah Perang “Sparta dan Athena” Yang Berakhir Dengan Kehancuran

Dahulu kala, Yunani dikatakan sebagai bangsa yang cukup berpengaruh di dunia. Selain filsafat yang spektakuler, juga terkenal dengan kisah para ksatria yang paling mematikan, yaitu Sparta dan Athena. Kekayaan Yunani dapat diukur dari monumen-monumennya, bahkan monumen paling monumental adalah Parthenon, dipersembahkan untuk Athena sang dewi pelindung kota.

Sebuah patung perunggu kolosal yang menggambarkan Athena dan tangga berhias yang mengarah ke Propylaea. Soal seni Yunani memiliki kuil-kuil cantik yang dipersembahkan untuk dewa mereka, memiliki patung yang selalu menghiasi kota, Tembikar (keramik) yang sangat menawan, Lukisan yang indah seperti yang dilukis pelukis-pelukis terkenal seperti Zeuxis, Parrhasius dan Apelles.

Pasukan Persia melintasi Hellespont, yang saat ini dikenal sebagai Dardanella, bergerak maju ke Thrace, Makedonia dan Thessaly. Tujuan mereka tertahan oleh pasukan aliansi negara-negara Yunani di bawah pimpinan Raja Leonidas I di Thermophylae. Persia adalah bangsa imperium sama besar dengan Yunani, yang selau berhasrat untuk menaklukan Yunani. Darius yang agung sang raja Persia selalu berhasrat merebut imperium tersebut, namun kegagalan selalu didapatnya, setelah kekalahan telak pada Perang Marathon.

Xerxes melakukan peperangan dengan Yunani, berharap melanjuti cita-cita mendiang ayahnya, namun pasukan Athena yang dibantu oleh 300 pasukan Sparta berhasil menaklukan bangsa Persia, peperangan panjang membuat Persia (sekarang Iran) terpukul mundur. Dari kemenangan Yunani ini dapat disimpulkan bahwa apabila kota-kota di Yunani bersatu maka kemenangan akan cepat diraihnya, namun sebaliknya jika masing-masing suku ini berkonflik maka kekacauan dan kehancuran yang akan terjadi.

Athena dan Sparta merupakan dua kota di Yunani kuno yang terkenal dengan kehebatan tentara tempurnya, dua kota ini adalah kota yang menjadi garda Yunani dalam melawan musuh-musuhnya. Namun kekalahan Persia pada perang membuat Athena memanfaatkan keadaan, mengingat Persia yang sedang lemahnya akibat kekalahan perang, Athena menguasai beberapa wilayah Persia, hal itu membuat peningkatan ekonomi di Athena, kemudian dengan itu Athena memperkuat militernya, armada laut Athena menjadi nomor satu di Yunani kuno.

Kekuatan militer Athena membuat ketakutan pada Sparta akan dominasi Athena di Yunani, sehingga pada 431 SM terjadi peperangan antara kedua kota di Yunani ini. Sparta melanggar perjanjian perdamaian dengan Athena dan menyatakan perang terhadap Athena. Tindakan itu membuat Athena harus berhadapan dengan Sparta selama 30 tahun yang dikenal sebagai Perang Peloponnesia.

Sparta dan Athena Berakhir dengan Kehancuran

Awalnya perang itu berpihak pada Athena dan Perikles mendapat banyak pujian atas keberhasilannya menerapkan strategi militer. Namun, kekacauan besar terjadi yang membuat Perikles terpaksa harus mundur dari jabatannya.

Setelah kekacauan berhasil direda, Perikles kembali terpilih sebagai pemimpin Athena dengan kekuasaan yang lebih besar. Tetapi tidak berlangsung lama, kekuasaan Perikles kembali terancam, dan kali ini Sparta menginginkannya sebagai salah satu korban untuk mencapai kedamaian. Setelah kematian Perikles, Athena perlahan mengalami kemunduran akibat perang berkepanjangan melawan Sparta.

Athena gagal mendapatkan pengganti Perikles sebagai pemimpin mereka yang dapat membangun kembali kota besar tersebut. Perang tersebut disebut perang Peloponnesos, antara koalisi liga Peloponnesos yang dipimpin bangsa Sparta melawan liga Delia yang dipimpin bangsa Athena, kemenangan berhasil diraih oleh Sparta, sehingga Sparta menjadi kekuatan terbesar Yunani, masyarakat Athena dijadikan budak mereka dan dijual.

Perang saudara yang memakan waktu 27 tahun ini mengakibatkan seluruh Yunani mengalami kemiskinan, mengalami penderitaan dan berakhir dengan kehancuran, karena saat mengetahui Yunani mengalami kemiskinan dan penderitaan panjang akibat perang saudara, Raja Philip II dari kerajaan Makedonia mengambil kesempatan untuk menyerang Yunani. Philip II yang merupakan ayah dari Alexander Agung ini dengan sekejap meluluh-lantahkan Yunani, hingga tenggelamlah peradaban Yunani kuno.

Perang Peloponnesia yang terjadi antara 431-404 SM antara Athena dan Sparta merupakan periode penting dalam sejarah dunia. Athena, negara semi demokratis yang meminjamkan begitu banyak cita-citanya ke Roma dan ke peradaban barat secara keseluruhan di era modern dan Sparta, negara militer profesional bertempur untuk menguasai Yunani dan Cekungan Mediterania timur.

Ketika perang Peloponnesia itu berakhir, kebesaran Athena hanya tinggal menjadi masa lalu. Tak jauh berbeda, Sparta di semenanjung Yunani dan sekitarnya juga akan segera berakhir. Kemuliaan peradaban Athena tertelan sejarah. Begitu juga kekuatan militer Sparta yang berada pada puncaknya segera perlahan-lahan mengalami penurunan. Seiring penurunan kedua kekuatan itu, muncul kekuatan baru dari daerah pegunungan di Yunani utara.

Di bawah raja-raja Archelaus, Amyntas III dan putranya Philip II, orang-orang Makedonia perlahan-lahan menjadi kerajaan yang paling kuat di Mediterania. Penaklukan Sparta atas Athena membuat reputasi dan pengaruh mereka bertambah besar, tetap hal itu malah memunculkan kebencian yang besar antar negara dan kota lainnya. Banyak negara yang pada akhirnya menjalin perjanjian kerja sama untuk menaklukan Sparta ataupun Athena.

Salah satu konflik besar yang terjadi setelah Peloponnesia terjadi perang antara Sparta dengan Thebes, yang sebelumnya sempat menjadi sekutu ketika berperang melawan Athena. Perang antara keduanya terjadi pada 395 SM ketika Lysander memimpin pasukan Sparta memerangi orang-orang Boeotia di Hiliartus.

Pasukan Thebes mulai bergabung dengan Boeotia untuk membantu mengalahkan Sparta dan berusaha membunuh Lysander. Secara mengejutkan, gabungan kekuatan Boeotia dan Thebes berhasil mengalahkan pasukan Lysander, yang terkenal sangat tangguh ketika berperang. Kemenangan Thebes mulai menaikkan semangat negara kota lain untuk menghancurkan hegemoni Sparta di seluruh wilayah Yunani.

Namun Sparta memiliki pasukan yang sangat terlatih dan kuat, sehingga pemberontakan yang dilakukan oleh banyak negara kota dapat diredam dengan cepat. Pada 394 SM, orang Sparta berhasil mengalahkan kekuatan anti-sparta di Koronea dan berhasil mengepung Korintus Ketika perang Peloponnesia itu berakhir, kebesaran Athena hanya tinggal menjadi masa lalu. Tak jauh berbeda, kontrol singkat Spartan di semenanjung Yunani dan sekitarnya juga akan segera berakhir.

Pada 404 SM, Athena dilanda oleh penyakit yang yang disebabkan oleh blokade Sparta. Namun akhirnya para pemimpin Sparta menawarkan nutuk mengakhiri permusuhan juga. Kisah terkenal Thucydides tentang perang juga memberi tahu kita bahwa pada akhir konflik, Sparta memberi syarat menyerah kepada Athena. Pada hari berikutnya, para duta besar melaporkan kepada Majelis persyaratan yang ditawarkan oleh Sparta untuk berdamai.

Dan sementara beberapa orang memilih untuk menentang perdamaian itu, jumlah yang jauh lebih besar memilih untuk mendukung pilihan perdamaian. Meski begitu, tidak ada perjanjian yang ditandatangani secara nyata yang pernah ditemukan atau dilaporkan. Pihak-pihak terkemuka telah memilih untuk berdamai, hal itu sekaligus mengakhiri perang 27 tahun. Kemuliaan peradaban Athena tertelan sejarah.

Begitu juga kekuatan militer Sparta yang berada pada puncaknya segera perlahan-lahan mengalami penurunan. Seiring penurunan kedua kekuatan itu, muncul kekuatan baru dari daerah pegunungan di Yunani utara. Di bawah raja-raja Archelaus, Amyntas III dan putranya Philip II, orang-orang Makedonia perlahan-lahan menjadi kerajaan yang paling kuat di Mediterania.

Di bawah putra Philip, Alexander (356-323SM), orang-orang Makedonia dalam waktu singkat akan menjadi kekaisaran yang paling kuat di Eropa dan Timur Tengah. Kekalahan Athena dan melemahnya Sparta selama Perang Peloponnesia secara tak langsung merestui jalan itu. Namun baru pada tahun 1996, walikota Athena dan Sparta memutuskan bahwa perang 2.500 tahun mereka harus berakhir secara resmi.

Perbedaan Sistem Pemerintahan Sparta dan Athena

Peletak dasar pemerintahan di Sparta adalah Lycurgus. Lycurgus menerapkan undang-undang dengan sangat ketat. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pemberontakan. Sparta tampil sebagai negara militer yang tidak memberik kesempatan bagi berkembangnya pemberontakan. Athena yang terletak di Attica. Athena dikenal sebagai peletak dasar sistem pemerintahan demokrasi di dunia.

  • Sparta

Pemerintahan Sparta dipegang oleh dua orang raja yang sangan absolut dalam memerintah, diberikan secara turun-temurun dalam pemerintahannya. Sparta dikenal sebagai pasukan tempur terhebat yang pernah ada di Yunani. Segala hal diatur dengan sempurna untuk kemudian menjadikan rakyat Sparta menjadi petarung-petarung terhebat dan membentuk pasukan sempurna.

Lelaki menjalani hari-harinya dengan latihan yang amat sangat keras juga brutal untuk membentuk sebuah prajurit yang tangguh, pada masa pertumbuhan rakyat Sparta yang disebut Agoge yang dipercaya sebagai pelatihan terkeras yang pernah dilakukan. Bahkan para wanita di Sparta juga diharuskan untuk melatih kemampuan fisik mereka setidaknya untuk mempersiapkan dan menghadapi proses melahirkan juga untuk bertugas sebagai garis pertahanan terakhir di Sparta dalam menghadapi invasi dari musuh.

Pada usia 60 tahun-pun tetap dijadikan pasukan potensial walaupun telah diperbolehkan untuk pensiun. Prajurit Sparta adalah pasukan paling elite di zamannya. Sepak terjangnya yang mengerikan membuat mereka banyak menguasai wilayah dengan skill perang yang mengagumkan.

Sparta memiliki penduduk mayoritas orang/suku Dorian. Dunia kehidupan mereka menunjukkan gambaran akan kegagahan, kekerasan, dan kepraktisan, tetapi juga terdapat kelembutan yang terlihat dalam karya-karya seni mereka yang kreatif dan artistik yang tidak terpengaruh oleh sifat militeristik yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari di Sparta ini

  • Athena

Athena atau Atena adalah ibukota negara Yunani. Athena juga menjadi pusat ekonomi, budaya dan politik Yunani. Athena atau Athene, juga disebut Pallas Athena atau Pallas Athene dalam mitologi Yunani adalah dewi kebijaksanaan, strategi dan perang. Menurut legenda, Athena adalah putri kesayangan Zeus, dewa terkuat.

Ibunya adalah dewi Metis, yang merupakan dewi pemikiran dan kepandaian dan terkenal sebagai dewi kebijaksanaan. Athena diberkahi kekuatan oleh ayahnya, kepandaian dan kebijaksanaan oleh ibunya.

Kemampuan-kemampuan yang terus dilatih dalam mengembangkan pengetahuan serta kemudian menjadi ahli perang dan strategi ini pun secara berkala membawa banyak kemenangan untuk bangsa ini, walaupun berbeda dengan kemampuan bangsa Sparta yang menitikberatkan pada kemampuan fisik tetapi tidak jarang Athena pun menang dalam laga.

Dibandingkan dengan Sparta hanya menguatkan kekuatan militer untuk pertahanan, Athena mengembangkan kekuatan militernya untuk merebut hegemoni di Mediterania dengan pengembangan teknologi dan pemanfaatan sumber daya alam. Pada puncaknya, Athena memiliki beberapa mesin militer paling canggih, terutama peralatan militer laut.

Nah, walaupun Di bawah perjanjian perdamaian, Athena diminta untuk merobohkan tembok perlindungan kotanya, menyerahkan kekuatan maritimnya dan membiarkan Sparta berkuasa di wilayah Yunani. Meskipun perang antara Sparta dan Athena telah selesai, tetapi negara kota Yunani lainnya tidak terlalu menyukai Sparta sebagaimana dahulu sikap mereka kepada Athena. Untuk itu demikianlah informasi diatas, semoga ulasan pada hari ini memberi manfaat kepada pembaca.