Benarkah Penyakit Pes Disebabkan Oleh Kutu Yang Melekat Pada Hewan Peliharaan?

Cara penularan setiap penyakit sebaiknya perlu diketahui terlebih dulu untuk mengantisipasinya. Misalnya saja seperti penyakit pes, salah satu penyakit yang namanya mungkin sedikit janggal untuk didengar. Pes adalah wabah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Gejalanya meliputi demam, kelemahan dan sakit kepala. Biasanya ini dimulai satu sampai tujuh hari setelah terpapar. Dalam bentuk bubonic ada juga pembengkakan kelenjar getah bening, sedangkan pada jaringan bentuk septikemik bisa berubah menjadi hitam dan mati, dalam bentuk pneumonia sesak napas, batuk dan nyeri dada bisa terjadi.

Wabah peso dan septikemia umumnya disebarkan oleh gigitan kutu atau penanganan hewan yang terinfeksi. Bentuk pneumonitis umumnya menyebar antar manusia melalui udara melalui tetesan infeksius. Diagnosis biasanya dengan menemukan bakteri dalam cairan dari kelenjar getah bening, darah atau dahak.

Mereka yang berisiko tinggi dapat divaksinasi. Mereka yang terpapar kasus wabah pneumonia dapat diobati dengan obat pencegahan. Jika terinfeksi, pengobatannya bisa dilakukan dengan antibiotik dan perawatan suportif. Biasanya antibiotik termasuk kombinasi gentamisin dan fluoroquinolone. Risiko kematian dengan pengobatan adalah sekitar 10% sementara tanpa itu adalah sekitar 70%.

Secara global sekitar 600 kasus dilaporkan setahun. Pada 2017, negara-negara dengan kasus terbanyak mencakup Republik Demokratik Kongo, Madagaskar dan Peru. Di Amerika Serikat infeksi biasanya terjadi di daerah pedesaan. Secara historis terjadi wabah besar, yang paling terkenal adalah Black Death di abad ke-14 yang mengakibatkan lebih dari 50 juta orang meninggal.

Etiologi Pes (Plague)

Ini adalah penyakit yang disebabkan oleh enterobakter yersina pestis (dinamai dari bakteriolog Perancis A.J.E. Yersin). Penyakit pes dibawa oleh hewan pengerat (terutama tikus). Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah dan telah menimbulkan korban jiwa yang besar. Selama abad ke-14, pedagang dari kota-kota pelabuhan Laut Tengah dan Laut Hitam mengadakan perjalanan ke Cina dan sepulangnya membawa kembali sutera serta kulit binatang yang berharga.

Ketika kembali dari perjalanan seperti ini pada tahun 1343, sekelompok pedagang dari Genoa menurut laporang lari ketakutan karena adanya pasukan orang Tartar dan berlindung di balik tembok kota perdagangan Caffa di Semenanjung Krim. Orang Tartar segera mengepung kota tersebut. Selama tiga tahun tak ada pihak yang mendapatkan kemajuan, sampai pada suatu hari orang Tartar berhenti melemparkan batu ke dalam kota Caffa dan mulai melemparkan mayat-mayat tentara mereka sendiri yang meninggal karena pes.

Sejak dahulu kala sampai kini, infeksi mikroba merupakan ancaman utama terhadap kesehatan manusia beradab. Penyakit pes lebih daripada “pes-pes” di kemudian hari seperti misalnya kolera, cacar, demam kuning dan influenza-tetap merupakan contoh utama mengenai siatu penyakit infeksi yang datang dari luar negeri dan menyerang orang Filistin melalui pelabuhan laut mereka. Wabah raya penyakit pes yang pertama, yakni pes Justinius pada Abad ke-6, berkecamuk waktu perdagangan internasional meningkat.

Plague, disebut juga penyakit pes adalah infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis. Yesinia pestis penyebab pes berbentuk batang pendek, gemuk dengan ujung membulat dengan badan mencembung, berukuran 1,5 µ × 5,7 µ dan bersifat Gram positif. Kuman ini serirtutung menunjukkan pleomorfisme. Pada pewarnaan tampak bipolar, mirip peniti tertutup. Kuman tidak bergerak, tidak membentuk dari spora dan diselubu. Selain jenis kutu tersebut, penyakit ini juga ditularkan oleh kutu jenis lain.

Di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara kutu carrier plague adalah Xenophylla astia. Penyakit ini menular lewat gigitan kutu tikus, gigitan atau cakaran binatang yang terinfeksi plague dan kontak dengan tubuh binatang yang terinfeksi. Kutu yang terinfeksi dapat membawa bakteri ini sampai berbulan2 lamanya. Selain itu pada kasus pneumonic plague, penularan terjadi dari dari percikan air liur penderita yang terbawa oleh udara. Kutu menyebarkan penyakit ketika mengisap darah tikus atau manusia tetapi bakteri wabah pes belum terbasmi tuntas.

Di Bolivia dan Brasil misalnya, terdapat lebih dari 100 laporan kasus pes per sejuta penduduk. Wabah pes dikenal dengan black death karena menyebabkan tiga jenis wabah, yaitu bubonik, pneumonik dan septikemik. Ketiganya menyerang system limfe tubuh, menyebabkan pembesaran kelenjar, panas tinggi, sakit kepala, muntah dan nyeri pada persendian.

Wabah pneumonik juga menyebabkan batuk lendir berdarah, wabah septikemik menyebabkan warna kulit berubah menjadi merah lembayung. Dalam semua kasus, kematian datang dengan cepat dan tingkat kematian bervariasi dari 30-75% bagi bubonik, 90-95% bagi pneumonik dan 100% bagi septikemik. Akan tetapi dengan pengobatan yang tepat, penyakit pes dapat disembuhkan karena berhasil diobati dengan sukses menggunakan antibiotika.

Patigenesis

Pes adalah infeksi dari sistem limfatik, biasanya dihasilkan dari gigitan kutu yang terinfeksi, Xenopsylla cheopis (kutu tikus). Para kutu sering ditemukan pada hewan pengerat seperti tikus dan mencari mangsa binatang pengerat lainnya ketika tuan mereka mati. Bakteri membentuk agregat dalam usus dari kutu yang terinfeksi dan hasil ini di loak muntah darah tertelan, yang sekarang terinfeksi, ke situs gigitan hewan pengerat atau host manusia.

Setelah didirikan, bakteri cepat menyebar ke kelenjar limfe dan berkembang biak. Y.pestis basil bisa menahan fagositosis dan bahkan mereproduksi dalam fagosit dan membunuh mereka. Sebagai penyakit berlangsung, kelenjar getah bening dapat perdarahan dan menjadi bengkak dan nekrotik.

Pes dapat berkembang menjadi mematikan septikemia dalam beberapa kasus. Wabah ini juga diketahui menyebar ke paru-paru dan menjadi penyakit yang dikenal sebagaiwanah pneumonia. Bentuk penyakit ini sangat menular karena bakteri dapat ditularkan dalam tetesan dikeluarkan saat batuk atau bersin, serta kontak fisik dengan korban wabah tikus atau kutu-bantalan yang membawa wabah.

Vektor pes adalah pinjal. Di Indonesia saat ini ada 4 jenis pinjal yaitu: Xenopsylla cheopis, Culex iritans, Neopsylla sondaica dan Stivalus cognatus. Reservoir utama dari penyakit pes adalah hewan-hewan rodent (tikus, kelinci).

Kucing di Amerika juga pada bajing. Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent. Kuman-kuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes tadi, dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan.

Pada no.1 s/d 5, penularan pes melalui gigitan pinjal akan mengakibatkan pes bubo. Pes bubo dapat berlanjut menjadi pes paru-paru (sekunder pes).

Selain pes, pinjal bisa menjadi vektor penyakit-penyakit manusia, seperti murine typhus yang dipindahkan dari tikus ke manusia. Disamping itu pinjal bisa berfungsi sebagai penjamu perantara untuk beberapa jenis cacing pita anjing dan tikus, yang kadang-kadang juga bisa menginfeksi manusia.

Bila pinjal menggigit hewan pengerat yang terinfeksi dengan Y. pestis, organisme yang termakan akan berkembang biak dalam usus pinjal itu dan, dibantu oleh koagulase menyumbat proventrikulusnya sehingga tidak ada makanan yang dapat lewat. Karena itu, pinjal lapar dan ususnya tersumbat sehingga akan menggigit dengan ganas dan darah yang dihisapnya terkontaminasi Y. pestis dari pinjal, darah itu dimuntahkan dalam luka gigitan.

Organisme yang diinokulasi dapat difagositosis tetapi bakteri ini dapat berkembang biak secara intra sel atau ekstra sel. Y. pestis dengan cepat mencapai saluran getah bening, dan terjadi radang haemorrogic yang hebat dan kelenjar-kelenjar getah bening yang membesar, yang dapat mengalami nekrosis. Meskipun infasinya dapat berhenti di situY. pestis sering mencapai ke aliran darah dan tersebar luas.

Pinjal merupakan salah satu parasit yang paling sering ditemui pada hewan kesayangan baik anjing maupun kucing. Meskipun ukurannya yang kecil dan kadang tidak disadari pemilik hewan karena tidak menyebabkan gangguan kesehatan hewan yang serius, namun perlu diperhatikan bahwa dalam jumlah besar kutu dapat mengakibatkan kerusakan kulit yang parah bahkan menjadi vektor pembawa penyakit tertentu.

Pinjal yang biasa dikenal kutu loncat atau fleas ada 2 jenis, yaitu kutu loncat pada anjing dan kucing, namun di lapangan lebih sering ditemukan kutu loncat kucing yang juga dapat berpindah dan berkembang biak pada anjing.

Y. pestis awalnya menginfeksi dan menyebar ke hewan pengerat rumah (misalnya tikus) dan hewan lain (misalnya kucing) dan manusia dapat terinfeksi karena gigitan pinjal atau dengan kontak. Vektor pes yang paling lazim adalah pinjal tikus (Xenopsylla cheopis) tetapi pinjal lain dapat juga menularkan infeksi. Untuk pengendalian pes dibutuhkan penelitian pada hewan yang terinfeksi, vektor,dan kontak manusia dan pembantaian hewan yang terinfeksi pes.

Semua pasien yang dicurigai menderita pes harus diisolasi terutama kalau kemungkinan keterlibatan paru-paru belum disingkirkan. Kontak pasien yang dicurigai menderita pneumonia pes harus diberi tetrasiklin 0’5 gram per hari selama 5 hari, sebagai kemoprofilaksis. Selain itu, kondisi lingkungan juga berperan dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Oleh karena itu untuk meminimalisasi kasus pes, perlu usaha masyarakat dalam menjaga sanitasi dan higienitas lingkungannya.

Jenis Pes

Penyakit pes dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi. Tanda dan gejala yang muncul pada penyakit ini tergantung dari jenis pes yang di derita. Orang yang terinfeksi pes biasanya akan mengalami gejala seperti flu selama 2 sampai 6 hari. Kemudian, setelahnya gejala pes akan muncul. Berikut gejala pes yang terjadi sesuai jenis yang diderita.

Bubonic Plague

Masa inkubasi 2-7 hari. Gejalanya kelenjar getah bening yang dekat dengan tempat gigitan binatang atau kutu yang terinfeksi akan membengkak berisi cairan (disebut Bubo). Terasa sakit apabila ditekan. Pembengkakan akan terjadi. Gejalanya mirip flu, demam, pusing, menggigil, lemah, benjolan lunak berisi cairan di di tonsil atau adenoid (amandel), limpa dan thymus. Bubonic plague jarang menular pada orang lain.

Y. pestis menyebar melalui pembuluh limfatik manusia yang terinfeksi sampai mencapai kelenjar getah bening, di mana ia merangsang peradangan hemoragik yang menyebabkan kelenjar getah bening berkembang. Kelenjar getah bening yang membengkak membentuk bubur karakteristik yang terkait dengan penyakit ini.

Pneumonia Plague

Jenis pes ini terjadi ketika bakteri sudah menyerang paru-paru. Penyakit ini satu-satunya yang bisa ditularkan manusia melalui batuk. Gejala paling cepat muncul sehari setelah adanya gigitan atau sentuhan langsung dengan tikus atau kutu yang terinfeksi. Gejala yang muncul dari pes ini adalah demam tinggi, sakit kepala, badan lemas, mual dan muntah, nyeri dada, batuk darah atau air liur dan lendir juga berdarah, serta sesak napas.

Gejala ini berkembang dengan cepat dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan syok dalam dua hari setelah infeksi. Jika pengobatan antibiotik tidak dimulai dalam sehari setelah tanda dan gejala muncul pertama kali, infeksi tersebut kemungkinan akan berakibat fatal.

Septicemic Plague

Penyakit pes tingkat lanjut, ketika bakteri sudah memasuki darah karena tidak segera diobati. Gejala yang muncul dari pes ini adalah:

  • Demam disertai menggigil
  • Lemas luar biasa
  • Nyeri perut disertai diare
  • Mual dan muntah
  • Syok
  • Perdarahan dari mulut, hidung, rektum (dubur), atau di bawah kulit karena darah tidak bisa menggumpal
  • Kulit menghitam akibat adanya jaringan yang mati (gangren), biasanya terjadi pada jari tangan, jari kaki atau ujung hidung. Gejala ini menyebabkan penyakit pes disebut sebagai black death atau wabah hitam.

Penyebabnya

Pestisida Yersinia beredar di hewan, terutama pada hewan pengerat yang berada dalam fokus alami infeksi yang ditemukan di semua benua kecuali Australia. Tonjolan alami wabah terletak di sabuk luas di garis lintang tropis dan sub tropis dan bagian yang lebih hangat dari garis lintang sedang di seluruh dunia, antara kesejajaran 55 derajat Utara dan 40 derajat di Selatan. Berlawanan dengan kepercayaan populer, tikus tidak secara langsung memulai penyebaran wabah pes. Terutama pada kutu (Xenopsylla cheopis) yang melahap tikus yang membuat tikus itu sendiri menjadi korban pertama wabah.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ini dapat menular ke manusia, dan dapat terjadi melalui berbagai cara. Salah satunya melalui perantara kutu yang sebelumnya menggigit hewan pengerat yang terinfeksi, seperti tikus, anjing padang rumput, tupai, bajing, atau kelinci. Selain itu, penyakit ini juga dapat menyebar dari kotoran ke mulut (fecal-oral transmission), melalui droplet batuk atau bersin, dan akibat kontak secara langsung dengan pemilik wabah, baik manusia atau hewan.

Pes pada manusia juga dapat berasal dari cakaran kucing atau anjing piaraan yang telah terinfeksi, termasuk melalui luka yang terkena darah hewan yang terinfeksi. Hewan piaraan juga dapat terinfeksi wabah ini akibat memakan tikus yang sudah terinfeksi wabah pes.

Risiko seseorang terkena pes akan lebih besar apabila orang tersebut berada atau pernah mengunjungi area-area yang memiliki kasus wabah pes. Seorang dokter hewan dan asistennya, serta orang-orang yang sering beraktivitas di luar ruangan, memiliki risiko terkena pes yang cukup besar.

Penyebab dan faktor risiko pes pada tiap jenisnya:

  • Bubonic plague, disebabkan oleh gigitan hewan pengerat atau kutu. Pada kasus yang jarang terjadi dapat disebabkan juga oleh kontak langsung dengan benda yang telah disentuh oleh seorang penderita pes. Dinamakan sesuai area yang dijangkitinya, yaitu buboes (kelenjar getah bening yang bengkak).
  • Pneumonic plague, ditularkan melalui udara dari batuk atau bersin penderita kepada orang lain yang menghirup udara tersebut sehingga menjadikannya sebagai jenis wabah pes yang bisa ditularkan antar sesama manusia.
  • Septicemic plague terjadi ketika bakteri masuk ke aliran darah secara langsung, kemudian berkembang biak di dalam darah. Bubonic plague dan pneumonic plague juga dapat berkembang menjadi septicemic plague jika tidak segera ditangani.

Biasanya sakit ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  • Kontak tetesan – batuk atau bersin pada orang lain
  • Kontak fisik langsung – menyentuh orang yang terinfeksi, termasuk kontak seksual
  • Kontak tidak langsung – biasanya dengan menyentuh kontaminasi tanah atau permukaan yang terkontaminasi
  • Transmisi udara – jika mikroorganisme berada di udara dalam waktu lama
  • Transmisi fecal-oral – biasanya dari sumber makanan atau sumber air yang terkontaminasi
  • Transmisi vektor ditanggung – dibawa oleh serangga atau hewan lainnya

Pencegahan Seperti Apa Yang Bisa Dilakukan? Cara efektif untuk mencegah pes adalah mengendalikan hewan-hewan yang berpotensi membawa penyakit ini dan sebisa mungkin kita terhindar dari paparan bakteri penyebab pes. Hal ini dapat dilakukan dengan cara-cera sebagai berikut:

  1. Untuk mengendalikan populasi tikus di daerah rumah, tempat kerja dan rekreasi maka harus menjaga kebersihan dan kerapihan. Singkirkan tumpukan kayu bakar berantakan atau tumpukan batu, sikat, atau kotoran lain yang dapat menarik perhatian tikus. Bila perlu gunakanlah perangkap tikus untuk mengendalikan populasinya di sekitar rumah.
  2. Jika Anda memiliki hewan peliharaan maka rawatlah dengan baik, gunakan produk pembasmi kutu. Apabila hewan telah bebas berkeliaran di luar rumah sedangkan daerah yang dituju lagi ada wabah penyakit pes, hewan peliharaan harus diawasi setelah pulang dan hindari kontak erat sampai dipastikan hewan benar-benar sehat.
  3. Jika hewan peliharaan menjadi sakit, maka carilah segera perawatan dokter hewan untuk memastikan keadaannya.
  4. Gunakan produk obat nyamuk atau obat pengusir serangga alami seperti serai ketika menghabiskan waktu di luar rumah. Ketika menangani binatang yang berpotensi terinfeksi, maka pakailah sarung tangan untuk mencegah kontak antara kulit dan bakteri berbahaya.

Untuk itu apabila anda memilii hewan peliharaan, jangan lupa untuk selalu memonitor kondisi mereka setelah berkeliaran bebas di luar rumah, terutama jika tinggal di area yang memiliki kasus pes. Jangan lupa untuk memastikan hewan piaraan dan keluarga telah menggunakan produk antiserangga atau kutu, khususnya sebelum beraktivitas di luar ruangan. Cegah hewan piaraan untuk tidur di kasur tidur atau sofa ruang tamu untuk mencegah penyebaran kutu pes.