5 Skandal Keluarga Kerajaan Arab Saudi yang Gegerkan Dunia

Pernahkan anda mendengar skandal yang pernah mewarnai sejarah kerajan yang ada di Arab Saudi ?  Berikut 5 skandal yang pernah mewarnai kerajaan tersebut.

1. Pembunuhan Raja Faisal

Pada tanggal 25 Maret 1975 merupakan hari yang sangat kelam bagi Kerajaan Arab Saudi. Dinama itu adalah hari Sang pemimpin Raja Faisal meninggal dunia. Segala upaya telah dilakukan dokter untuk menyelamatkannya dengan memijat jantung dan memberikan tranfusi darah namun semua hal itu tidak berhasil.

Wafatnya sang penguasa dari Dinasti Saud itu sungguh tak terduga. Dalam insiden yang sangat mengejutkan itu Raja Arab Saudi Faisal bin Abdul Aziz. Pangeran Faisal bin Musaed, keponakan Raja Faisal, menembakkan tiga peluru dari jarak dekat ke arah korban di tengah sebuah acara kerajaan.

Menurut sejumlah saksi mata, Pangeran Faisal bin Musaed kala itu berada di sebuah ruangan sedang berbincang dengan seorang delegasi Kuwait, saat menanti kedatangan sang raja. Raja Faisal sedang membungkuk, untuk mencium keponakannya itu. Namun, tanpa peringatan, Pangeran Faisal bin Musaed mengeluarkan pistol dan menembak korban. Senjata itu diarahkan ke bawah dagu dan ke telinga korban.

Salah satu pengawal sang raja sempat memukulkan pedangnya yang masih bersarung ke arah pelaku. Menteri Minyak Sheikh Yamani dilaporkan berteriak, memerintahkan para pengawal untuk tidak membunuh sang pangeran. Pangeran Faisal bin Musaed dibekuk tak lama kemudian dan diperiksa pihak Kepolisian Saudi. Para dokter dan psikiater mengeluarkan diagnosis bahwa pelaku dalam kondisi ‘tak seimbang’ secara mental. Sebelum dan sesudah insiden penembakan itu terjadi, pelaku dalam kondisi baik-baik saja.

Ia kemudian dinyatakan bersalah. Pada Juni 1975, Faisal bin Musaed dieksekusi mati dalam kasus pembunuhan sang raja. Eksekusi pancung dilakukan di sebuah alun-alun di Riyadh. Apa motif yang melatarbelakangi aksi Pangeran Faisal bin Musaed tak pernah diketahui. Namun, beredar spekulasi bahwa aksinya itu adalah sebagai balas dendam atas kematian saudaranya Khalid, yang tewas dalam bentrokan dengan aparat keamanan pada 1966. Juga muncul teori konspirasi yang mempertanyakan kesimpulan bahwa sang pangeran bertindak sendirian, tidak berkomplot. Setelah wafatnya Raja Faisal, sang putra mahkota, Pangeran Khalid mewarisi takhta kerajaan.

2. Homoseksualitas Sang Pangeran

Pada 2010, Pangeran Saud bin Abdulaziz bin Nasir al Saud ditahan gara-gara memukuli pembantunya hingga tewas di sebuah kamar hotel mewah di London. Seperti dikutip dari BBC, kasus pembunuhan tersebut menguak dugaan homoseksualitas sang pangeran. Dalam persidangan yang digelar di Old Bailey, para pengacara Pangeran Saud bin Abdulaziz bin Nasir al Saud berusaha membuktikan bahwa kliennya bukan gay.

Pengacaranya, John Kelsey-Fry QC berpendapat, pertanyaan soal seksualitas terdakwa, tak relevan dengan kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa homoseksualitas adalah pelanggaran luar biasa dalam hukum syariah Islam. Jika sang pangeran dinyatakan sebagai homoseksual, maka ia terancam dieksekusi di negara asalnya.

Pangeran Saud bin Abdulaziz bin Nasir al Saud Pembela hukum tetap bergeming, meski muncul pengakuan dari dua penghibur pria Pablo Silva and Louis Szikora yang mengaku melakukan tindakan seksual kepada sang pangeran. Seorang porter, Dobromir Dimitrov, yang seorang homoseksual mengatakan, “Aku mengira mereka (korban dan pelaku) adalah pasangan gay.”

Pangeran yang kala itu baru berusia 34 tahun mengakui bahwa ia melakukan kekerasan terhadap pelayannya, Bandar Abdulaziz, namun membantah telah membunuhnya. Ia mengaitkan kematian korban dengan pemukulan dan perampokan uang senilai 3.000 pound sterling beberapa pekan sebelumnya. Namun, penyelidikan mengungkap luka yang diderita Bandar Abdulaziz masih baru. Jasad yang ditemukan di kamar 312, Landmark Hotel itu memiliki luka gigitan di pipi. Polisi juga menemukan foto korban yang telanjang di ponsel sang pangeran.

Ibu sang pangeran adalah satu dari 50 keturunan almarhum Raja Saud. Ia mengajak dan membiayai pembantunya itu terbang ke seluruh dunia dan tinggal di hotel terbaik. Di London, keduanya pergi berbelanja, makan di restoran terbaik, dan minum sampanye serta koktail di klub malam megah.

Mereka berbagi tempat tidur tapi sang pangeran sering menjadikan ‘hamba laki-lakinya itu’ sebagai objek kekerasan, seperti pemukulan yang tertangkap kamera CCTV di lift hotel, tiga minggu sebelum kematian Bandar Abdulaziz. Pangeran Saud bin Abdulaziz bin Nasir al Saud divonis penjara seumur hidup di Inggris. Namun, ia dikirim balik ke Arab Saudi pada 2013 sebagai bagian dari pertukaran narapidana.

3. Menipu Pangeran Charles

Beredar kabar bahwa Konsul Jenderal AS Tatiana Gfoeller menulis kawat diplomatik yang merinci makan malam yang digelar Pangeran Khalid bin Faisal al-Saud untuk Pangeran Charles. Dua pangeran itu punya sejarah panjang. Mereka sama-sama gemar lukisan pemandangan dan bahkan mengadakan pameran seni bersama-sama di London dan Riyadh. Pangeran Khalid tak siap menggelar acara makan malam itu. Sebab, istananya itu rusak dan membutuhkan renovasi besar. Maka, seorang ‘pebisnis terkemuka dari Barat’ dipilih menjadi penyelenggara makan malam. Tak hanya mempersiapkan jamuan, ia juga bertanggung jawab membereskan lantai pertama istana itu dalam waktu tiga minggu. Dan ini yang dilakukannya: pertama, ia mematikan aliran listrik sehingga tak ada seorang pun yang bisa menyalakan lampu. Lubang-lubang pada dinding ditutup dengan styrofoam atau gabus. Proyektor juga dipasang di sana-sini untuk memproyeksikan hambar dan desain pada dinding. Makan malam hanya diterangi nyala lilin. Kamuflase itu berhasil. Pangeran Charles sangat memuji kemewahan kerajaan. Sang pebisnis yang menyelenggarakan pesta mendapatkan dua lukisan, dari masing-masing pangeran tersebut. Sang pangeran Arab menambahkan ‘tip’ sebesar US$ 13 ribu. Kawat diplomatik itu juga memuat pernyataan pebisnis yang menyebut Pangeran Khalid ‘pelit’.

4. Kisah Tragis Romeo dan Juliet ala Arab

Kisah cinta tragis, mirip Romeo dan Juliet, pernah menimpa keluarga kerajaan Arab. Kala itu, Putri Misha’al bint Fahd al Saud sudah dijodohkan dengan sesama ningrat. Calon suaminya adalah sepupunya sendiri. Namun, saat menempuh studi di Beirut, Lebanon, ia bertemu dan jatuh cinta dengan Khaled,yang merupakan putra seorang diplomat Saudi.Seiring berjalannya waktu keduanya pun menjalin cinta terlarang. Hubungan itu pun tetap terjalin bahkan ketika keduanya sudah kembali ke Arab Saudi. Pada 1977, mereka berniat melarikan diri, namun tertangkap. Hubungan mereka, dan keengganan sang putri menyalahkan kekasihnya itu, bikin marah sang kakek, Muhammad bin Abdul Aziz al Saud saudara sang raja.

Maka, Putri Misha’al yang kala itu berusia 19 tahun dibawa ke sebuah tempat parkir di Jeddah. Ia dieksekusi dengan ditembakan di depan kekasihnya. Sementara, Khaled dieksekusi pancung yang dilaporkan dilakukan bukan sekali ayun,melainkan empat kali ayun. Pihak Saudi dilaporkan berusaha menutup-nutupi hubungan terlarang itu. Namun, upaya itu gagal. Pada tahun 1980, kisah cinta yang berakhir tragis itu jadi subjek drama dokumenter berjudul Death Of A Princess.

Pihak Saudi berusaha mencekalnya, akan tetapi semua usaha yang dilakukan gagal. Mereka membalas dengan mengusir duta besar Inggris untuk Riyadh dan menarik 400 anggota kerajaan Saudi dari Britania Raya. Kemarahan Riyadh juga menyebabkan kerugian 200 juta pound sterling pihak Inggris, dari pendapatan yang hilang dari pesanan dibatalkan dan boikot produk.

5. Kokain di Pesawat Pangeran Arab

Pada tahun 2004, Pangeran Nayef bin Fawwaz Al Shalaan didakwa di Amerika Serikat dan Prancis atas keterlibatannya dalam operasi perdagangan narkoba antara Amerika Selatan dan Eropa. Skema itu berawal dari hubungan cinta antara sang pangeran dan perempuan Kolombia yang bernama Doris Mangeri Salazar di University of Miami pada tahun 1970-an. Mereka terus berhubungan dan bertemu beberapa tahun setelahnya. Pada tahun 1998, sang pangeran diduga telah bertemu dengan anggota sindikat narkoba Kolombia, atas perantaraan Mangeri. Sindikat itu dipimpin Juan Gabriel Usuga dan Carlos Ramon.

Pangeran Nayef dilaporkan menyelundupkan kokain lewat pesawat pribadinya, jenis Boeing 727. Ini alasan pengguna dan opini para ahli dari seluruh penjuru dunia soal kokain yang dianggap berkelas. Seperti dikutip dari The Guardian, pangeran dituduh menyelundupkan 1.980 kokain ke Prancis pada Mei 1999. Kokain itu awalnya dikirim ke sebuah rumah di Caracas, Venezuela dengan menggunakan truk kentang. Barang haram itu kemudian dipindahkan ke 100 koper Samsonite kosong, dan akhirnya ditempatkan di atas kapal pesawat pangeran. Sampai di Paris, kokain itu kemudian dikirim ke Italia dan Spanyol. Sejumlah kokain berhasil didistribusikan. Namun, 796 kilogram di antaranya disita aparat di Paris, 188 kg lainnya digerebek polisi Spanyol. Meski menerapkan hukum keras terhadap perdagangan narkoba, Saudi meloloskan sang pangeran yang mengaku pertemuannya dengan pihak Kolombia adalah mencari investor usaha plastik.

Karena tidak ada perjanjian ekstradisi antara Kerajaan Arab Saudi dengan Prancis atau Amerika Serikat, penyelidik tak bisa berbuat banyak. Menteri Dalam Negeri Saudi, Pangeran Nayef bin Abdel Aziz, bahkan mengancam untuk membatalkan beberapa kesepakatan bisnis dengan Prancis.